Sekedar Update Berita

Loading...

Rabu, 26 September 2012

Tari Rejang - Tarian Sakral


Bendote - Tari Rejang adalah tarian upacara keagamaan dari masyarakat Bali yang diperkirakan berasal dari zaman pra-Hindu. Tarian ini merupakan persembahan suci untuk menyambut kedatangan dan menghibur para Dewa yang turun dari Kahyangan ke Bumi. Di kalangan masyarakat Hindu-Bali tari Rejang dipentaskan dalam pelaksanaan upacara Dewa Yadnya seperti odalan di pura-pura. Sementara itu, di kalangan masyarakat Tenganan, Asak, Bongaye, dan lain-lainnya yang berada di Kabupaten Karangasem, tarian ini masih tetap dipentaskan untuk berbagai upacara adat dan acara lainnya di lingkungan masyarakat setempat.
Berbeda dengan tari Sanghyang yang merupakan tarian dari para Dewa-Dewi dan rokh suci lainnya, dengan memasuki tubuh penarinya, tari Rejang adalah persembahan suci untuk para Dewa-Dewa. Pada waktu upacara odalan di pura-pura, melalui puja mantra dan sesaji para Dewa diundang untuk turun dari Kahyangan dan bersemayam pada benda-benda suci seperti Pratima. Untuk menyambut dan menghibur kedatangan para dewa ini, maka ditarikanlah tari Rejang. Melalui tarian ini warga masyarakat menyatakan rasa syukur dan terimakasih mereka kepada para Dewa atas perkenannya turun  ke Bumi.
Tari Rejang adalah sebuah tarian prosesi upacara yang ditarikan oleh sejumlah penari wanita. Para penari yang pada umumnya bukan orang-orang yang propesional ini terdiri dari berbagai kelompok umur yaitu Tua, setengah baya, dan muda. Dengan menari secara beriringan, berbaris ataupun melingkar di halaman pura. Tarian ini biasanya dilakukan disekitar tempat suci atau pelinggih, dimana pertima-pertima itu ditempatkan. Para penari Rejang pada umumnya memakai pakaian adat atau pakaian Upacara, dengan memakai hiasan bunga-bunga emas di kepalanya dan hiasan-hiasan lainnya yang sesuai dengan kebiasaan desa masing-masing.
Dilihat dari perbendaharaan geraknya, tari Rejang dikatakan cukup sederhana, tempo gerakannyapun cenderung pelan dengan kualitas yang mengalun. Gerak-gerak yang dominan dipakai dalam tari Rejang adalah ngembat dan ngelikas atau gerakan kiri dan kanan yang dilakukan sambil melangkah kedepan secara perlahan. Ketika menari, penari Rejang pada umumnya tidak berdialog atau menyanyi.
Di banyak desa, kelompok penari Rejang meliputi beberapa orang penuntun yang disebut Pamaret yang biasanya dilakukan oleh para penari tua yang sudah pengalaman. Dimana para Pemaret selalu menari di barisan paling depan daripada penari lainnya, biasanya yang mengikuti di belakangnya adalah kalangan remaja. Dimana-mana penari Rejang terlebih dahulu disucikan dengan berbagai sesaji.
Tari Rejang pada umumnya diiringi dengan musik instrumental walaupun adapula yang diiringi musik vokal (Tembang ataupun Kidung). Gamelan pengiring tari Rejang pada umumnya adalah gambelan gong (Kebyar) hanya beberapa saja yang memakai gamelan lain seperti gamelan Selonding atau gambelan Gambang.
Tari Rejang ini merupakan tarian Upacara yang pementasannya selalu dikaitkan dengan upacara, yaitu terutama Upacara Dewa Yadnya yang dilakukan di Pura-pura. Tempat pementasan tari Rejang pada Umumnya di halaman jeroan atau jaba tengah dari sebuah Pura. Jika karena sesuatu hal tari Rejang dapat dipentaskan di jabe sisi pura, hal ini dikarenaan pementasannya selalu berdekatan dengan tempat sesaji atau tempat lainnya yang dipandang suci.
Tari Rejang adalah simbol Widyadara dan Widyadari yang menuntun Bhatara turun ke dunia yang dilakukan pada waktu melasti atau turun ke peselang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar